yang dimaksud dengan salat sunnah rawatib adalah

Niat Shalat Sunnah Rawatib dan 6 Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

Shalat Sunnah Rawatib

niat shalat sunnah rawatib

Yang Dimaksud Dengan Salat Sunnah Rawatib Adalah?

Makna shalat sunnah rawatib dapat dijelaskan dengan beberapa cara. Secara linguistik, kata rawatib merupakan bentuk jamak dari kata raatibah. Kata ini berasal dari kata ra-ta-ba yang berarti terus menerus atau terus menerus.

Yang dimaksud dengan shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang menyertai shalat wajib, baik sebelum (qabliyah) maupun sesudah (ba’diyah) shalat wajib. Shalat yang dikerjakan sebelum disebut shalat qabliyah, sedangkan shalat yang dikerjakan sesudahnya disebut shalat ba’diyah.

Sholat sunnah rawatib ini dua bagian, yaitu sunnah muakkad dan sunnah ghairu muakkad. Sholat sunnah rawatib muakkad sangat mulia dan dijanjikan pahala yang besar ketika dilakukan. Sholat sunat rawatib ghairu muakkad sedikit kurang mulia dibandingkan dengan sholat sunat muakkad.

Apa yang dimaksud dengan salat sunah rawatib muakkad ?

Apa yang dimaksud dengan sholat sunnah rawatib muakkad? Sholat sunnah rawit adalah salah satu sholat yang mengiringi sholat wajib lima waktu dan dilakukan sebelum (qabliyah) dan setelah (ba’diyah) sholat wajib.

1. Sunnah Muakkad

Menurut ulama Hanafi, sunnah muakkad identik dengan wajib. Hanya saja kadarnya sedikit di bawah fardhu, yaitu sesuatu yang ditetapkan dengan dalil tetapi masih memiliki ambiguitas.

Sunnah Muakkad disebut juga dengan fardhu amali. Artinya, perbuatan ini diposisikan sebagai fardhu dalam hal amalan, sehingga membutuhkan adanya keteraturan dan qadha (jika ditinggalkan).

Namun, tidak boleh diyakini bahwa sunnah muakkad adalah fardhu. Contoh muakkad sunnah adalah shalat witir, dua rakaat sebelum fajar, dan shalat tarawih.

2. Sunnah Ghoiru Muakkad
Sunnah Ghoiru Muakkad memiliki nama lain mandub dan mustahab yang artinya, yang dibalas jika dilakukan dan tidak disiksa jika ditinggalkan.

Menurut ulama Hanabilah, sunnah ghoiru muakkad sesuatu yang dikerjakan mendapat pahala dan jika dibiarkan tidak mendapat hukuman. Contoh sunnah ghoiru muakkad adalah sholat tahiyatul masjid, sholat rawatib, sholat tahajud.

Sebutkan keutamaan salat sunah rawatib

Kedudukan sholat sunnah rawatib sebagai salah satu sunnah yang sangat istimewa. Rasulullah bahkan tidak pernah meninggalkannya ketika dia seorang mukim (tidak dalam perjalanan atau bepergian jauh). Lima keutamaan salat sunah rawatib adalah sebagai berikut :
1. Dibangun rumah di surga
2. Diharamkan baginya api neraka
3. Lebih baik dari dunia dan yang lainnya
4. Diberi Rahmat dan Kebaikan yang melimpah
5. Jauhi sifat sombong dan periang
6. Hadiah Pahala yang lebih besar

BACA JUGA :  Pengertian Sholat Tahajud dan 6 Tatacaranya Lengkap

Jumlah shalat sunnah rawatib

Ulama berbeda dalam jumlah. Pendapat Syafi’iyah dan Hanabilah, totalnya sepuluh rakaat. Artinya, dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh.

Pendapat ini didasarkan pada hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata:

“Aku menghapal dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (Muttafaq ‘Alaih)

Sedangkan pendapat Hanafiah, jumlah rakaat shalat sunnah rawatib mu’akkadah sebanyak dua belas rakaat. Yakni empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat ba’da Maghrib, dua rakaat ba’da Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Ini didasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dzuhur.” (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan Ummu Habibah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda

“Barangsiapa melakukan shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” (HR. Muslim dan Al-Tirmidzi)

Dalam tambahan riwayat Tirmidzi ada hadits yang serupa dengan tambahan: “Empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat setelahnya dan dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” Maka silahkan Anda memilih dari dua pendapat di atas. Namun jika bisa mengerjakan yang dua belas rakaat itu lebih utama. Wallahu Ta’ala A’lam.

Niat sholat rawatib

Shalat Rawatib Ashar

Shalat Ashar memiliki empat rakaat sunnah Rawatib yang di lakukan sebelum shalat fardhu, dengan dalil hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam yang berbunyi:

رحم الله امرءا صلّى قبل العصر أربعًا

Artinya, “Allah akan merahmati hamba-Nya yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.”

Teruntuk shalat Rawatib yang empat rakaat, boleh dilakukan dengan sekali salam atau dua kali salam (melakukannya masing-masing dua rakaat). Adapun lafal niatnya, Ushallî sunnatal ashri arba’a raka‘âtin/rak‘ataini qabliyyatan lillâhi ta‘âlâ, “Saya shalat sunnah qabliyah Ashar empat rakaat/dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Shalat Rawatib Zuhur

Shalat Zuhur difasilitasi dengan empat rakaat sebelum dan sesudah shalat fardhu. Dalilnya, hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam yang berbunyi:

BACA JUGA :  Sholat Sunnah Zifaf atau Lailatul Zifaf Adalah

من حافظ على أربع ركعات قبل الظهر وأربع بعدها حرمه الله على النار

Artinya, “Siapa orang yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah haramkan ia masuk neraka.”

Lafal niatnya, Ushallî sunnatad dhuhri arba‘a raka‘âtin/rak‘ataini qabliyyatan/ba’diyatan lillâhi ta‘âlâ, “Saya shalat sunnah qabliyah/ba’diyah Zuhur empat rakaat/dua rakaat karena Allah ta’ala.

Shalat Rawatib Maghrib

Dalam shalat magrib, syariat menganjurkan kita shalat sunnah Rawatib dua kali, qabliyah dan ba’diyah yang masing-masing dilaksanakan dua rakaat. Dalilnya, hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam berikut:

بين كل أذانين صلاة، بين كل أذانين صلاة، بين كل أذانين صلاة لمن شاء

Artinya, “Di antara dua adzan (adzan dan ikamah), di antara dua adzan, di antara dua adzan, ada kesunnahan melakukan shalat bagi yang berminat.”

Para ulama menjadikan hadits di atas sebagai dalil kesunnahan shalat qabliyah Maghrib. Sedangkan sunnah ba’diyah berdasar pada sebuah hadits lain yang berbunyi:

من صلى بعد المغرب ركعتين قبل أن يتكلم كتبتا في عليين

Artinya, “Siapa orang yang shalat dua rakaat setelah Maghrib sebelum ia sempat berbicara apa pun, maka pahalanya akan dicatat di surga Illiyyin.”

Lafal niatnya, Ushallî sunnatal Maghrib rak’ataini qabliyyatan/ba’diyatan lillâhi ta‘âlâ, “Saya shalat sunnah qabliyah/ba’diyah Maghrib dua rakaat karena Allah ta’ala.

Shalat Rawatib Isya’

Sebagaimana shalat Maghrib, Isya’ juga memiliki dua waktu sunnah Rawatib, qabliyah dan ba’diyah, dan masing-masing dikerjakan dua rakaat. Dalilnya adalah pengakuan seorang sahabat, Muhammad bin al-Munkadir yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim. Ia mengatakan:

صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين بعد العشاء

Artinya, “Saya pernah shalat dua rakaat setelah Isya’ bersama Nabi shalallahu alaihi wasallam.”
Adapun dalil sunnah qabliyah Isya’, para ulama menggunakan dalil yang sama dengan shalat qabliyah Maghrib.

Lafal niatnya, Ushallî sunnatal Isya’ rak‘ataini qabliyyatan/ba’diyatan lillâhi ta‘âlâ, “Saya shalat sunnah qabliyah/ba’diyah Isya’ dua rakaat karena Allah ta’ala.

Shalat Rawatib Subuh

Adapun shalat Subuh, walau hanya difasilitasi dengan dua rakaat yang dilakukan sebelum shalat fardhu (sunnah qabliyah), namun keutamaannya tak kalah istimewa dari yang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits imam Muslim, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

Artinya, “Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”

BACA JUGA :  Manfaat Shalat Tahajud

Terkait istilah, ulama terkadang menyebutnya sunnah qabliyah subuh, sunnah fajar, sunnah barad (dingin), dan sunnah wustha (tengah) berdasar pada pendapat lemah bahwa shalat Subuh termasuk shalat wustha (shalat yang ada di tengah di antara lima shalat yang ada). Karena itu, maka lafal niatnya juga boleh beragam tergantung ingin menyebutnya sebagai shalat apa.

Lafal niatnya, Ushallî sunnatas subhi rak‘ataini qabliyyatan lillâhi ta‘âlâ, “Saya shalat sunnah qabliyah subuh dua rakaat karena Allah ta’ala.

Sumber: https://islam.nu.or.id

12 rakaat shalat sunnah rawatib

12 rakaat shalat sunnah rawatib merupakan pendapat Hanafiah, jumlah rakaat shalat sunnah rawatib mu’akkadah sebanyak dua belas rakaat. Yakni empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat ba’da Maghrib, dua rakaat ba’da Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Ini didasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dzuhur.” (HR. Al-Bukhari)

Bagaimana hukum shalat rawatib ba’diyah dan qabliyah

Sesuai dengan namanya, hukum pelaksanaan sholat sunnah qobliyah dan badiyah ialah sunnah, yakni jika dikerjakan maka akan mendatangkan pahala, sebaliknya jika tidak dikerjakan maka tidak mendatangkan dosa ataupun pahala

Ada dua waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat sunnah rawatib yaitu

Dua waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat sunnah rawatib yaitu Sholat Rawatib Ba’diyah Subuh dan Ashar.

Sementara itu tiga macam waktu yang dilarang untuk melakukan salat sunah atau pun menguburkan jenazah diantaranya yaitu:

  1. Waktu yang tidak diperbolehkan dalam mengerjakan salat sunah yang pertama yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi;
  2. Waktu yang tidak diperbolehkan dalam mengerjakan salat sunah yang kedua yaitu ketika seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari tergelincir;
  3. Waktu yang tidak diperbolehkan dalam mengerjakan salat sunah yang ketiga yaitu ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.

Wallahu A’lam Bishawab